Khurafat Bulan Shafar

Dalam beribadah dan menyikapi apapun, umat Islam diwajibkan mengikuti Al-Qur’an, sunnah Rasulullah SAW, dan ijma’ ulama sebagai sumber hukum atau ajaran Islam. Amal ibadah yang tidak diperintahkan dan dicontohkan Rasulullah SAW tidak akan doterima oleh Allah SWT atau mardud (tertolak).

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari dan Muslim).

Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak” (HR. Muslim).

Amalan yang tertolak tersebut termasuk khurafat (takhayul, mitos, dongeng, ataupun cerita rekaan). Khurafat adalah salah satu bentuk penyelewengan dalam akidah Islam. Salah satunya khurafat yang berkenaan dengan bulan Shafar. Pada zaman jahiliyah, terdapat kepercayaan bahwa bulan Shafar merupakan bulan sial dan kepercayaan tersebut langsung dibantah oleh Rasulullah SAW.

Bulan Shafar adalah bulan kedua setelah Muharam da;am kalender hijriah yang berdasarkan perputaran bulan terhadap bumi. Shafar sendiri memiliki arti kosong, dinamakan demikian sebab pada bulan ini orang-orang Arab sering pergi meninggalkan rumah untuk menyerang musuh. Kepercayaan bahwa Shafar bulan sial atau bulan bencana masih saja dipercaya oleh sebagian umat. Padahal Rasulullah SAW sudah menegaskan bahwa mitos tersebut tidaklah benar.

Salah satu amalan khurafat yang pernah muncul ialah ritual mandi Shafar. Jika tiba bulan Shafar, umat Islam, pada masa itu, mengadakan upacara mandi beramai-ramai dengan keyakinan hal tersebut bisa menghapuskan dosa dan menolak bala. Biasanya amalan tersebut dilakukan pada hari Rabu di minggu terakhir pada bulan Shafar yang pada masa itu diyakini bahwa pada hari itulah hari penuh bencana.

Amalan mandi Shafar untuk tolak bala dan menghapus dosa merupakan kepercayaan penganut Hindu melalui ritual “sangam” yang mengadakan upacara penghapusan dosa melalui pesta mandi di sungai. Umat Islam harus menghormati keyakinan mereka, tetapi tidak boleh menirunya. Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang meniru suatu kaum maka dia termasuk dari mereka” (HR. Abu Daud).

Meniru-niru ini mengandung beberapa arti, yaitu menyerupai, mengikuti, menuruti, atau bersesuaian. Islam memiliki ciri khas tersendiri yang berasal dari Allah SWT yang membedakan umatnya dari umat-umat yang lain, baik dalam hal akidah, ibadah, ataupun akhlak.

Hingga kini masih ada umat Islam yang tidak mau melangsungkan pernikahan pada bulan Shafar karena percaya terhadap khurafat tersebut. Sebuah keyakinan yang dapat menjerumuskan kepada jurang kemusyrikan. Bahkan sampai semacam amalan khusus, misalnya hari Rabu membaca syahadat tiga kali, istighfar 300x, ayat kursi 7x, surat Al-Fiil 7x, dan lain sebagainya. Membaca ayat-ayat tersebut memanglah bukan perbuatan yang buruk tetapi jika kita mengkhususkan waktu membacanya atau mengkhususkan jumlah bacaanya dan kita meyakini dengan membaca ayat/bacaan tersebut akan terhindar dari bala maka khawatir akan jatuh ke arah khurafat yang jelas dilarang dalam Islam.

Khurafat pada bulan Shafar lainya yang diyakini oleh sebagian besar orang antara lain: larangan menikah dan pertunangan, melakukan perjalanan jauh, hari Rabu di minggu terakhir bulan Shafar adalah hari sial, upacara ritual tolak bala, membaca jampi tertentu, menjamu makanan untuk makhluk halus, menganggap bayi yang lahir di bulan Shafar akan bernasib sial, dan bahkan ada yang berkeyakinan bahwa di bulan Shafar Allah SWT menurunkan Kemarahan dan Hukuman ke dunia.

Semua hal diatas tidaklah benar, dan umat Islam wajib mengingkari khurafat tersebut. Tidak ada satu dalil pun โ€”Al-Qur’an ataupun hadisโ€” yang membenarkanya. Islam menegaskan bahwa kesialan, naas, atau bala bencana dapat terjadi kapan saja tidak harus pada bulan Shafar apalagi dikhususkan hanya terjadi di bulan Shafar.

Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kamu melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal” (QS. At-Taubah: 51).

Tidak ada amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Shafar. Amalan bulan Shafar sama seperti amalan-amalan lain di bulan selain Shafar. Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada suatu hari, bulan, dan tempat merupakan kepercayaan jahiliyah.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesilan bulan Shafar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR Bukhari).

Semoga Allah SWT senantiasa memberi kita kekuatan dan bimbingan agar terhindar dari segala bentuk bid’ah, khurafat, dan takhayul sehingga kita selamat dari jurang kemusyrikan. Amin…

Sumber:
Buletin hari Jum’at USWAH edisi 9 Shafar 1432 H

4 thoughts on “Khurafat Bulan Shafar

  1. Burhanuddin

    Bagus, saling mengingatkan mudah2an Saudara-Saudara kita yang melaksanakan perbuatan yang tidak dicontohkan Rosulullah secara pelan2 bisa ditinggalkannya sesuai dengan kderajat keimanan masing-masing, insya Allah……

    Balas
  2. Taufsyaif

    Jangan menganggap semua bulan itu sama.kalau menganggap bulan itu sama/tidak ada amalan khusus.jadi sia-sia donk tarawih loe diramadan.

    Balas
    1. Andri Priyanto Penulis Tulisan

      semua bulan memang sama, tidak ada yg berbeda.. berbeda dengan taraweh ramadhan, solat traweh memang dilakukanya hanya di bln ramadhan, sementara yg tidk boleh itu menghususkan amalan yg bisa dilakukan kapan saja di 1 hari atau bulan tertentu.. tida ada yg sia2 gan..๐Ÿ™‚

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s